BAGI para pekerja atau pelaku bisnis dengan mobilitas tinggi masa kini, perangkat Personal Digital Assistant (PDA) atau Smartphone bukan sesuatu yang asing. Kedua piranti elektronik ini secara perlahan tapi pasti, mulai jelas posisinya bukan hanya sebagai barang mewah tetapi juga sebagai penunjang pekerjaan sehari-hari. Dahulu orang harus menghabiskan banyak waktu di depan komputer bila ingin mengakses data-data penting baik secara on-line maupun off-line, kini berkat perangkat komputer saku ini segalanya menjadi mudah dan praktis.

MEMANG pemikiran untuk menghadirkan perangkat komputer yang dapat diakses di mana saja dan kapan saja sudah dimulai cukup lama. Revolusi yang cukup signifikan terjadi ketika laptop ditemukan, konsep mobile office mulai populer. Orang dapat membawa dan menggunakan komputer sesuai dengan kebutuhan di mana pun mereka berada. Namun, lama-kelamaan laptop dirasa terlalu berat untuk dibawa kemana-mana. Sebagai solusinya muncul berbagai piranti komputer mini yang paling tidak dapat menggantikan sebagian tugas yang seharusnya dikerjakan oleh komputer seperti menuangkan catatan, mengakses maupun mengedit data.

Personal Digital Assistant (PDA) sebenarnya pertama kali muncul dengan bentuk yang sangat sederhana, kecil, dan pada umumnya digunakan untuk menyimpan data-data yang juga sederhana seperti nomor telepon relasi dan berbagai catatan kecil lainnya. Sejurus dengan perkembangan waktu muncul piranti yang lebih besar dengan fungsi dan manfaat yang meningkat, sampai kemudian mulai dikembangan operating system (OS). Mulai saat itulah berbagai software mulai dikembangkan untuk lebih jauh lagi mendukung fungsi dari PDA ini.

Palm Tungsten WSampai saat ini terdapat banyak sekali macam PDA yang dapat ditemukan di pasaran. Pada dasarnya, berbagai PDA ini dibedakan berdasarkan sistem operasinya. Boleh jadi dua jenis PDA yang sangat dikenal saat ini adalah PocketPC dan Palm. Sistem operasi PocketPC dikembangkan oleh developer yang telah cukup dikenal yaitu Microsoft sedangkan Palm dikembangkan oleh developer Palm inc.

Masing-masing PDA memiliki kelebihan. Palm misalnya, selain memiliki aplikasi dengan ukuran kecil (sehingga dapat memuat banyak aplikasi dengan jumlah besar selain data-data) juga pada umumnya memiliki standby time yang cukup lama. Bentuknya yang tipis dan kecil juga banyak diminati. Dengan Palm OS pengguna dapat melakukan banyak tugas-tugas seperti mengakses dan mengedit dokumen, menyimpan contact data sampai mengakses Internet, menarik e-mail bahkan mengirim Faksimile dengan bantuan ponsel sebagai modem. Seturut dengan perkembangannya, Palm semakin powerful dengan dukungan storage yang dapat ditambah dan prosesor Intel Strong Arm 206Mhz. Kini Palm sanggup menjalankan berbagai aplikasi yang membutuhkan tenaga besar seperti multimedia dan fungsi-fungsi lainnya. Namun meskipun demikian sampai saat ini Palm belum mendukung pekerjaan multitasking.

Samsung & Hitachi PocketPCSedangkan PocketPC cenderung ditujukan untuk mereka yang menginginkan PDA dengan interface Windows dan tenaga yang juga besar. Selain mampu melakukan multitasking, PocketPC yang sebagian sudah didukung oleh prosesor Xscale PXA 250 berkecepatan 400Mhz juga mampu melakukan tugas-tugas yang hampir sama dengan laptop maupun desktop PC. Meskipun tidak dapat dikatakan sanggup menggantikan, namun paling tidak beberapa hal yang semula hanya dapat dilakukan dengan laptop atau desktop PC kini dapat juga dilakukan oleh PocketPC seperti melakukan presentasi, memutar klip video, menyimpan foto, mendengarkan musik sampai melakukan chating di Internet bahkan mengakses server PC yang ada di kantor menggunakan jaringan Internet.

Perkembangan teknologi akhir-akhir ini membuat Palm maupun PocketPC sanggup “berkomunikasi” dengan perangkat lain seperti ponsel, tanpa menggunakan kabel. Perlahan-lahan teknologi infra merah mulai digantikan oleh Bluetooth yang sanggup mempertahankan koneksi tanpa berhadapan bahkan masih dapat terhubung dalam jarak 10 meter. Selain itu teknologi Wi-Fi juga memungkinkan hubungan tanpa kabel bahkan dengan jarak lebih jauh lagi. Hal-hal yang dahulu sulit dilakukan sekarang menjadi mudah dan praktis seperti misalnya kini kita dapat menarik e-mail atau SMS yang masuk dari PDA tanpa harus mengeluarkan ponsel dari kantong kemeja atau tas kerja.

Teknologi Ponsel
Siemens SX1Seperti juga PDA, ponsel juga mengalami evolusi teknologi. Perkembangan ini tentu saja berakibat pula pada peningkatan fungsinya. Kalau dulu ponsel hanya digunakan untuk melakukan komunikasi suara, kini dengan ponsel seseorang juga dapat melakukan komunikasi data. Bukan hanya itu, saat ini ponsel telah dilengkapi dengan berbagai fitur yang memungkinkan penambahan fungsi-fungsi yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Perubahan-perubahan yang terjadi cukup revolusioner, mulai dari bentuk yang semakin mungil, layar LCD warna sampai fungsi kamera terintegrasi. Nokia 9000 boleh jadi merupakan ponsel pertama di Indonesia yang menggabungkan fungsi PDA dengan ponsel. Bentuknya yang cukup besar, sebagai konsekuensi dari muatan teknologinya ternyata tak menghalangi banyak pengguna mencobanya. Bahkan produk Nokia seri 9xxx ini sanggup bertahan hingga kini dengan berbagai pengembangan teknologi dan bentuk serta tetap memiliki penggemarnya sendiri. Sistem operasi GeOS sampai Symbian (yang digunakan oleh 9210i) membuat ponsel ini dilirik pula oleh para developer software sebagai ladang subur di masa mendatang.

Mirosoft Intel SmartPhoneIstilah Smartphone muncul sebagai konsekuensi dari peningkatan fungsi ponsel itu sendiri. Melihat kebutuhan dan minat pasar terhadap produk multiguna yang sanggup mendukung pekerjaan sehari-hari seperti ponsel plus ini, kini para produsen ponsel seakan berlomba mengimplementasikan penggabungan fungsi ponsel dan PDA ini sebagai bagian dari produksinya.

Beberapa model Smartphone kemudian muncul sebut saja misalnya 7650 dari Nokia, P800 dari SonyEricsson dan A388 dari Motorola dengan berbagai kelebihan seperti fungsi PDA terintegrasi, PIM (Personal Information Manager), document viewer atau editor, multimedia sampai teknologi Java. Persaingan bisa semakin rumit karena kini dipasaran telah beredar pula Smartphone menggunakan sistem operasi PocketPC antara lain O2 oleh Oxygen dan Jornada 928 oleh Hewlett Packard.

Pilih mana
Melihat animo pasar terhadap teknologi yang sanggup menjawab kebutuhan pengguna baik PDA maupun Smartphone ini, persaingan dagang pun tak dapat dihindari. Peperangan bisnis tidak hanya terjadi antar produsen hardware, tetapi juga dikalangan pengembang software dan sistem operasi. Masing-masing bersaing guna menunjukkan bahwa operating system merekalah yang terbaik dan paling mudah digunakan.

Tentu saja pilihan pasar sangat menentukan siapa kelak yang akan diserbu developer software pihak ketiga dan kemudian (mungkin) sanggup memonopoli pasar. Namun tentu saja dalam persaingan bisnis hal tersebut sah-sah saja sejauh kebutuhan pengguna teknologi tersebut memang terperhatikan dan terpenuhi. Yang jelas persaingan ketat terjadi antara Microsoft sebagai pengembang operating system PocketPC, Symbian untuk sebagian besar Smartphone dan Palm inc. untuk Palm. Mana yang terbaik? Tentu saja pasar yang berhak menilainya.

Pilihan kepada teknologi yang paling menjawab kebutuhan seseorang bisa jadi sangat subyektif. Semua kembali kepada pengguna, apa yang mereka harapkan dan butuhkan dari sebuah device. Beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan antara lain adalah, pertama, power yaitu kekuatan prosesor dari perangkat dan kemampuan dasar hardware. Ini akan sangat mempengaruhi apa yang bisa dilakukan oleh device tersebut.

Kedua adalah kemampuan dasar yang dapat dilakukan (fungsi). Ketiga adalah ketersediaan media storage. Bagi pengguna aplikasi multimedia dan foto, storage menjadi bagian penting karena kedua tugas tersebut membutuhkan ketersediaan ruang yang luas. Keempat adalah dukungan baterai yang memadai, ini tentu saja akan mempengaruhi fungsionalitas perangkat bersangkutan. Dan yang terakhir terdapatnya dukungan software maupun hardware (dari produsen) dan juga aksesori yang akan membantu peningkatan fungsi perangkat tersebut.

Benarkah Smartphone sanggup menggantikan peran PDA plus ponsel, sehingga sisi kepraktisan dengan menggunakan satu perangkat saja bisa melakukan berbagai fungsi dapat tercapai? Tentu saja masih terlalu pagi untuk menilai. Tahun-tahun mendatang merupakan medan pembuktian. Lalu mana yang harus dipilih kini? Sekali lagi semua sangat bergantung pada kebutuhan pengguna. Mereka yang sangat bergantung pada fungsi penuh PDA, maka mereka akan memilih PDA dengan kombinasi ponsel yang mendukung kebutuhan PDA tersebut.

Mereka yang menyukai sisi kepraktisan dan tidak terlalu membutuhkan fungsi-fungsi berat PDA atau mereka yang menilai cukup teknologi Smartphone untuk menunjang pekerjaan sehari-hari, tentu saja akan memilihnya. Pertimbangan ini masih bisa diurai lagi kepada pertimbangan-pertimbangan yang lebih rinci seperti waktu standby, kekhawatiran terjadi masalah pada salah satu fungsi Smartphone (PDA atau perangkat ponselnya) yang mungkin saja mengakibatkan kedua- duanya tak dapat digunakan dan lain sebagainya.

Namun, bagi anda pengguna baru berbagai perangkat semacam ini, tak perlu khawatir kekurangan informasi atau dukungan dalam penggunaannya. Banyak komunitas sudah dibentuk dalam rangka mendukung pengguna untuk memaksimalkan penggunaan perangkat mereka. Mulai dari mailing list, klub sampai pertemuan pengguna secara rutin. Sebutlah beberapa komunitas seperti inTouch yang memberi dukungan kepada pengguna Nokia 9210 dan 7650, id-P800 untuk para pengguna Sonyericsson P800, id-pocketpc untuk pengguna Pocketpc, indocell untuk para pengguna ponsel secara umum, termasuk di dalamnya Smartphone, dan id-palmosers untuk para pengguna Palm. Rata-rata mereka memiliki mailing list aktif beranggotakan ratusan orang, yang akan sangat membantu pengguna untuk sungguh-sungguh memanfaatkan device yang dimilikinya secara maksimal.

Masalahnya kini, penggunaan baik PDA maupun Smartphone masih berada di daerah abu-abu area antara kebutuhan dan kemewahan. Ada sebagian mereka yang memang mampu mengoptimalkan penggunaan device yang dimilikinya sehingga kemudian perangkat tersebut menjadi kebutuhan di dalam menunjang pekerjaannya. Namun, ada pula yang sebaliknya, sehingga muncul kesan bahwa penggunaan device semacam ini merupakan kemewahan. Memang tak ada yang berhak menilai siapa pengguna yang sungguh-sungguh mengerti dan membutuhkannya atau sekedar memilikinya untuk kesenangan. Tetapi ini perlu juga dicermati, karena dari sana sebenarnya tercermin sejauh mana teknologi tersebut sungguh diterima, dimengerti, dan digunakan dengan bijaksana di Indonesia. Yang mana pilihan Anda?

Ingat Keperluan Saja
PDA atau pocket PC menawarkan banyak kemudahan kepada penggunanya. Pun teknologi PDA telah melesat jauh, menjadikannya sebuah perangkat pendamping komputer pribadi (PC). Dan pada saat yang bersamaan beragam merek dan tipe PDA juga banyak ditawarkan kepada konsumen.

Agar tidak kebingungan, berikut tip sebelum memilih PDA seperti yang dituturkan oleh Albert Juwono, Ketua Club Id Pocket PC, komunitas pengguna PDA di Jakarta. “Pertama kali sebelum memilih harus dipikir, apa yang akan kita manfaatkan dari PDA. Jika hanya sekadar untuk mencatat PIM, PDA yang termurah pun bisa mengakomodasikannya,” tutur Juwono.

Artinya, tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk membeli PDA yang canggih, jika pada akhirnya perangkat tersebut hanya digunakan untuk mencatat nama, alamat, dan nomor telepon kolega.

Berbeda jika ingin menjadikan PDA sebagai pendamping komputer pribadi. Sebagai perangkat untuk menyimpan dan memainkan data multimedia, Juwono merekomendasikan untuk memilih PDA yang menggunakan sistem operasi Windows CE atau Pocket PC.

Sebab, tampilan PDA yang menggunakan sistem operasi Windows sama dengan tampilan pada komputer pribadi, sehingga memudahkan saat akan digunakan. Apalagi dengan menu drag and drop (tekan ikon dan menu langsung tampil) pada Windows Pocket PC membuat penggunaan PDA semakin user friendly.

“Kalau menggunakan sistem operasi Palm, pada penggunaan lebih lanjut atau untuk menjalankan aplikasi yang kompleks, Palm malah merepotkan,” imbuhnya.

Selain itu yang menjadi faktor pertimbangan dalam memilih PDA, adalah layar. Jika konsumen menginginkan umur baterai PDA yang lama, dianjurkan untuk memilih PDA dengan layar hitam-putih. Dia mencontohkan, untuk PDA dengan layar hitam-putih baterai dapat bertahan hingga dua minggu. Padahal itu cukup dengan menggunakan dua buah baterai ukuran AAA saja,” tegasnya.

Tetapi jika ingin menjalankan aplikasi multimedia dan penuh dengan grafis, tentunya PDA dengan layar monokrom tidak dapat diandalkan. Harus menggunakan PDA dengan layar warna, tetapi konsekuensinya boros baterai, hanya dapat bertahan sekitar empat jam saja, jika digunakan nonstop.

Sedangkan menganai PDA dan digabungkan dengan telepon seluler (ponsel) yang saat ini banyak ditawarkan kepada konsumen, menurut Juwono, ada dua aliran dalam menanggapi hadirnya PDA jenis tersebut. “Jika ingin fleksibilitas, jelas saya pilih yang terpisah. Karena tidak mungkin untuk membawa-bawa PDA ke mana-mana. Lebih baik dibeli terpisah, jadi saat akan menelepon cukup gunakan ponsel saja,” ujarnya. Apalagi mengingat bentuk PDA yang lebih besar dari ponsel.

Tetapi, ada juga anggota masyarakat yang menginginkan efisiensi dan menggunakan PDA-nya sebagai alat untuk menerima dan mengirim surat elektronik. Sehingga PDA yang digabungkan dengan ponsel menjadi pilihan yang tepat. “Jadi tinggal bagaimana pengguna ingin memanfaatkan PDA-nya saja, karena dua-duanya menawarkan kelebihan dan kekurangan,” tegasnya.