:: Aneka Artikel ::

Kumpulan Artikel Menarik

REMAJA DAN HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH

Remaja kota kini semakin berani melakukan hubungan seksual pranikah. Nampaknya hal itu berkaitan dengan hasil sebuah penelitian, 10 – 12% remaja di Jakarta pengetahuan seksnya sangat kurang. Ini mengisyaratkan pendidikan seks bagi anak dan remaja secara intensif terutama di rumah dan di sekolah, makin penting.
Pengetahuan yang setengah-setengah justru lebih berbahaya ketimbang tidak tahu sama sekali. Kata-kata bijak ini nampaknya juga berlaku bagi para remaja tentang pengetahuan seks kendati dalam hal ini ketidaktahuan bukan berarti lebih tidak berbahaya. Data yang dikumpulkan dr. Boyke Dian Nugraha, DSOG, ahli kebidanan dan penyakit kandungan pada RS Dharmais, menunjukkan 16 – 20% dari remaja yang berkonsultasi kepadanya telah melakukan hubungan seks pranikah. Dalam catatannya jumlah kasus itu cenderung naik; awal tahun 1980-an angka itu berkisar 5 – 10%.

Sementara itu Dra. Yulia S. Singgih Gunarsa, psikolog dan konselor di sebuah sekolah swasta di Jakarta, juga melihat fenomena banyaknya pasangan remaja yang berhubungan dengan calo jasa pengguguran kandungan di Jakarta Pusat dan penggunaan obat-obat pencegah kehamilan.

Data tersebut mungkin tidak mewakili kenyataan sebenarnya, yang bisa menunjukkan angka lebih tinggi atau lebih rendah. Namun setidaknya kasus hubungan seksual pranikah itu ada hubungannya dengan hasil suatu penelitian para dokter di Jakarta. Seperti dikutip Boyke, 10 – 12% remaja di Jakarta pengetahuan seksnya sangat kurang.

Dalam kaitan dengan hubungan seksual, bisa diambil contoh ada remaja yang berpendapat, kalau hanya sekali bersetubuh, tidak bakal terjadi kehamilan. Atau, meloncat-loncat atau mandi sampai bersih segera setelah melakukan hubungan seksual bisa mencegah kehamilan.

Pengetahuan seks yang hanya setengah-setengah tidak hanya mendorong remaja untuk mencoba-coba, tapi juga bisa menimbulkan salah persepsi. Misalnya saja, berciuman atau berenang di kolam renang yang “tercemar” sperma bisa mengakibatkan kehamilan, mimpi basah dikira mengidap penyakit kotor, kecil hati gara-gara ukuran penis kecil, sering melakukan onani bisa menimbulkan impotensi.

Beberapa akibat yang tentunya memprihatinkan ialah terjadinya pengguguran kandungan dengan berbagai risikonya, perceraian pasangan keluarga muda, atau terjangkitnya penyakit menular seksual, termasuk HIV yang kini sudah mendekam di tubuh ratusan orang di Indonesia. Bandingkan dengan temuan Marlene M. Maheu, Ph.D., psikolog yang berpraktek di Kalifornia, AS, bahwa setiap tahun terdapat 1 dari 18 gadis remaja Amerika Serikat hamil sebelum nikah dan 1 dari 5 pasien AIDS tertular HIV pada usia remaja.

Dibentak ortu
Melihat kenyataan itu, pendidikan seks secara intensif sejak dini hingga masa remaja tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apalagi mengingat, “Sebagian besar penularan AIDS terjadi melalui hubungan seksual,” tegas Boyke yang juga pengasuh rubrik konsultasi seks di majalah dan radio. Kalau tidak, mereka yang kini remaja tidak bisa berbuat banyak saat memasuki usia produktif di abad XXI mendatang.

Seperti dikutip Boyke, survai oleh WHO tentang pendidikan seks membuktikan, pendidikan seks bisa mengurangi atau mencegah perilaku hubungan seks sembarangan, yang berarti pula mengurangi tertularnya penyakit-penyakit akibat hubungan seks bebas.

Disebutkan pula, pendidikan seks yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak azasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan di dalamnya sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga. Dengan itu diharapkan angka perceraian yang berdampak kurang baik terhadap anak-anak pun dapat dikurangi.

Hanya yang jadi soal hingga kini, “Pendidikan seks di Indonesia masih mengundang kontroversi. Masih banyak anggota masyarakat yang belum menyetujui pendidikan seks di rumah maupun di sekolah,” tutur dr. Gerard Paat, kolsultan keluarga RS Sint Carolus.

Sekalipun untuk tujuan pendidikan, anggapan tabu untuk berbicara soal seks masih menancap dalam benak sebagian masyarakat. Akibatnya, anak-anak yang berangkat remaja jarang yang mendapat bekal pengetahuan seks yang cukup dari ortu (orang tua). Padahal tidak jarang para remaja sendiri yang berinisiatif bertanya, tapi justru sering disambut dengan “kemarahan” ortu. “Boro-boro mau ngejelasin soal seks, baru nanya sedikit aja, nyokap (ibu) sudah mbentak, ‘Eh itu tabu, jangan diomongin!’” aku seorang remaja putri.

Bahkan anak-anak yang kedua orang tuanya bekerja rata-rata kehilangan panutan. “Orang tua yang mestinya menjadi tokoh panutan utama, justru kurang berperan karena kesibukan mereka sendiri,” kata dr. Paat, yang sejak akhir tahun 1960-an memberikan penyuluhan seks di sekolah dan luar sekolah.

Film, buku, dan motel
Dampaknya tentu bisa ke mana-mana. Antara lain dalam memilih konsumsi tontonan di TV yang masih berat dengan tayangan film barat dengan budaya dan gaya hidup yang berbeda. Kehidupan dunia barat yang digambarkan dalam film ataupun video, menurut Boyke, sering kali menunjukkan kehidupan seks bebas di kalangan remaja. Tayangan serial macam Beverly Hills atau Bay Watch, Boyke menyebut contoh, dengan bintang-bintang molek dan tampan itu mudah sekali merasuk ke dalam benak remaja. Sehingga mereka bisa amat mudah meniru gaya hidup muda-mudi dalam film itu.

“Justru ketika informasi seperti itu tidak bisa kita hindari, peranan orang tua untuk memberikan pengertian yang benar pada anak-anak menjadi penting,” tutur Boyke.

Minimnya pengetahuan seks masih ditambah lagi dengan mudahnya mendapatkan prasarana untuk melakukan seks bebas seperti di motel, cottage, vila; alat kontrasepsi; lebih mudanya rata-rata gadis mendapatkan haid (9 – 11 th); serta tertundanya usia perkawinan. Semua itu juga faktor yang ikut mempengaruhi remaja melakukan kegiatan seks bebas dan kumpul kebo.

Celakanya, “Remaja yang sudah terbiasa mengadakan hubungan seksual akan sulit menghentikannya,” jelas Paat. Itu bukan semata-mata karena faktor ketagihan, tapi terutama akibat timbulnya persepsi bahwa melakukan hubungan seksual sudah merupakan hal biasa.

Kalau itu sampai terjadi, ortu harus ikut bertanggung jawab. “Orang tualah yang seharusnya pertama-tama memberikan pengetahuan seks bagi anak-anaknya. Informasi seks dari teman, film, atau buku, yang hanya setengah-setengah tanpa pengarahan, mudah menjerumuskan. Apalagi kalau si anak tidak tahu risiko melakukan hubungan seksual pranikah,” kata Boyke.

Menurut Paat, pendidikan seks pasif, karena tanpa komunikasi dua arah semacam itu, sudah bisa mempengaruhi sikap serta perilaku seseorang. “Dalam pendidikan seks anak tidak cukup hanya melihat dan mendengar sekali-dua kali, tapi harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan,” katanya. Sebab itu, pendidikan seks hendaknya menjadi bagian penting dalam pendidikan di sekolah. Orang tua dan pendidik wajib meluruskan informasi yang tidak benar disertai penjelasan risiko perilaku seks yang salah.

Namun, pendidikan seks di sekolah mestinya hanya pelengkap pendidikan seks di rumah. Bukan justru menjadi yang utama seperti terjadi selama ini, kendati pendidikan seks di sekolah, menurut beberapa pengamat tadi, masih belum optimal.

Pacaran jangan dilarang
Pemberian pengetahuan seks mesti di rumah dilakukan sejak dini dan dimulai dengan perilaku keseharian anak-anak. Ketika masih anak-anak misalnya, berikan pengertian kepada mereka agar tidak ke luar dari kamar mandi sambil telanjang, menutup pintu kamar mandi ketika sedang mandi, mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk kamar ortu.

Ketika sudah menginjak bangku SD, remaja putri khususnya, mesti sudah dipersiapkan menghadapi masa akil balik. Pada usia sekitar 14 tahun, remaja putri maupun putra rata-rata mulai ingin tahu segala sesuatu tentang lawan jenisnya. “Ini merupakan proses pendewasaan diri, dan tak bisa dicegah,” tegas Boyke. Di sinilah ortu mesti mulai lebih sering mengadakan pendekatan dan memasukkan nilai-nilai moral kepada anak.

Pada saat mereka mulai berpacaran di usia yang sudah cukup, kata Boyke, tak perlu dilarang-larang. Berpacaran merupakan latihan pendewasaan dan pematangan emosi. Dengan berpacaran mereka bisa merasakan rasa rindu atau rasa memiliki, dan berlatih bagaimana harus ber-sharing dengan pasangan. Pada masa ini orang tua remaja putri hendaknya berperan menjadi teman berdiskusi sambil meneliti siapa pacarnya itu.

Dalam hal ini dibutuhkan komunikasi lebih terbuka antara ortu-anak. Melalui komunikasi, yang acap kali banyak diabaikan peranannya, ortu dapat memasukkan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Misalnya, batas mereka boleh bermesraan dan apa konsekuensinya kalau batas itu dilanggar. Kepercayaan dari ortu akan membuat mereka lebih bertanggung jawab.

Berpacaran secara sembunyi-sembunyi akibat tidak diberi kepercayaan justru tidak menguntungkan. “Ingat, kasus-kasus kehamilan pranikah umumnya dilakukan oleh mereka yang back street,” kata Boyke. “Mungkin juga akibat hubungan dengan orang tua kurang akrab atau orang tua terlalu kaku.”

Dr. Paat maupun dr. Boyke menyatakan, penjelasan mengenai risiko melakukan hubungan seksual pranikah perlu ditekankan. Umpamanya, kehamilan, kemungkinan terinfeksi HIV atau tertular penyakit kelamin kalau bergonta-ganti pasangan. Bila terjadi kehamilan dan kandungan terpaksa digugurkan, mereka menghadapi kemungkinan perdarahan, infeksi, kemandulan, bahkan kematian. Belum lagi stres atau rasa berdosa yang bakal dihadapi si anak. Juga diingatkan, dengan anak yang mereka lahirkan di luar nikah, mereka juga yang mesti bertanggungjawab sebagai ayah dan ibunya. Jangan lupa pula, “Jagalah agar jiwa mereka tidak banyak terganggu, apalagi selama mereka masih belum dewasa, masih harus sekolah, dan lain-lain,” tambah Yulia.

Kapan saja, di mana saja
Penjelasan yang baik mampu membuka mata mereka betapa melakukan hubungan seksual pranikah itu tidak ada untungnya. Ini misalnya terbukti ketika dr. Boyke membagikan kuesioner kepada peserta seminar remaja. Jawaban mereka sebelum dan sesudah mendengarkan ceramah bertolak belakang. Sebelum seminar, mereka rata-rata menyetujui hubungan seksual sebelum nikah. Tapi sesudahnya, 90% peserta menyatakan tidak setuju. Juga terungkap, mereka setuju adanya pendidikan seks, hanya tidak tahu harus ke mana memperolehnya.

Penyampaian materi pendidikan seks di rumah sebaiknya dilakukan kedua orang tua. “Sebelum usia 10 tahun pendidikan bisa diberikan secara bergantian, tapi umumnya ibu yang lebih berperan,” kata Paat. Menjelang akil balik, saat sudah terjadi proses diferensiasi jenis kelamin dan mulai muncul rasa malu (pada wanita mengalami haid, pertumbuhan payudara, dan pada laki-laki mengalami mimpi basah dan perubahan suara), sebaiknya ibu memberi penjelasan kepada anak perempuan dan ayah kepada anak laki-laki. “Sekali waktu boleh diadakan komunikasi silang. Misalnya, kepada anak perempuannya seorang ayah dapat berdiskusi bagaimana perasaan-perasaan pria bila jatuh cinta, atau sebaliknya kepada anak laki-lakinya, ibu bisa mengungkapkan bagaimana perasaan seorang wanita bila didekati pria.”

Menjelaskan tentang seks juga tidak perlu secara eksklusif. Itu bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Saat sedang sibuk memasak, misalnya, tiba-tiba si anak bertanya tentang kehamilan. Sang ibu tidak perlu menangguhkan jawaban atau menjanjikan jawaban akan diberikan panjang lebar di kamar, tapi bisa langsung saat itu juga. Tindakan eksklusif, menurut Paat, malah membuat si anak bisa berkesimpulan, seks merupakan sesuatu yang luar biasa dan harus dirahasiakan. Padahal pertanyaan seperti itu lumrah dan merupakan bagian dari kehidupannya.

“Kalau anak kita sama sekali tidak pernah bertanya soal seks, jangan dikira pasti beres. Coba pancinglah dengan buku,” jelas Paat. “Keterangan dalam buku yang kurang jelas bisa didiskusikan dengan orang tua,” tambah Boyke.

Di RT pun bisa
Pendidikan seks di sekolah, demikian Yulia dan Paat, hendaknya tidak terpisah dari pendidikan pada umumnya, dan bersifat terpadu. Ia bisa dimasukkan ke dalam pelajaran ilmu biologi, kesehatan, moral dan etika secara bertahap dan terus menerus. Mereka juga mensyaratkan penekanan pada pendidikan moral, meski tidak perlu sedetail pendidikan agama, agar pendidikan seks diterima murid sebagai suatu ilmu yang tidak untuk dipraktekkan sebelum waktunya.

Sekali waktu penyuluhan seks juga perlu diadakan. Misalnya, soal menghadapi masa haid dan mimpi basah bisa diberikan kepada anak kelas VI SD, proses terjadinya bayi (spermatozoa bertemu dengan sel telur) mulai diberikan kepada murid SLTP. Selanjutnya masalah kebebasan seks, alat kontrasepsi sampai hubungan seks (bukan tekniknya) diberikan kepada anak SLTA.

Menurut Yulia, penjelasan tentang program pendidikan seks yang hendak disampaikan kepada murid perlu juga diketahui orang tua murid. Maksudnya, agar mereka bisa memberi jawaban dan tidak terkejut bila tiba-tiba si anak atau remaja bertanya soal seks kepada mereka. “Karena, kadang-kadang ada anak yang dengan begitu bangga bercerita tentang pengetahuan seks yang baru diberikan di sekolah,” tutur Yulia.

Dr. Paat dan dr. Boyke saling berbeda pendapat dalam soal penyampaian informasi tentang alat kontrasepsi. “Alat kontrasepsi macam kondom bukan rahasia lagi, karena dapat dibeli di mana-mana. Yang penting, mereka diberi penjelasan bahwa pemakaian sebelum menikah merupakan pelanggaran nilai-nilai moral dan agama,” kata Paat. Sedangkan Boyke kurang setuju memperkenalkan pemakaiannya kepada remaja, karena khawatir disalahgunakan.

Lebih tepat, kata Paat, kalau tema penyuluhan didasarkan pada pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach), yakni penyuluhan disertai kesempatan berkonsultasi dengan guru, konsultan psikologi di sekolah, atau guru agama. Pasalnya, masalah yang dihadapi setiap murid berbeda-beda.

Dalam hal ini Dra. Yulia menganggap penting peran guru bimbingan dan penyuluhan (BP). Guru-guru ini tak cuma sebagai guru BP, tapi juga mesti tahu soal pendidikan seks. “Kadang-kadang murid segan bertanya kepada orang tua. Atau, pernah bertanya malah dimarahi bapak atau ibunya,” jelas Yulia. Dengan adanya kesempatan berkonsultasi, si anak bisa mengutarakan masalah pribadinya.

Selain di sekolah, “Di tingkat RT pun sebetulnya bisa sekali waktu diselenggarakan ceramah tentang seks bagi para orang tua atau remaja dengan bantuan dokter Puskesmas untuk mengisi kekosongan itu,” kata Boyke.

Usul itu boleh juga. Bagaimanapun pendidikan seks bukan semata-mata tanggung jawab orang tua dan pendidik, tetapi juga masyarakat. (Nanny Selamihardja/I Gede Agung Yudana)

Sumber : www.pusatartikel.com

& Komentar »

  sheeewool wrote @

emang kalo dah seks mo apa lagiiiiiiii……………
kasihan suaminya kaliiii………
dapet ampas tokkk
duuuh gimana ya bilang ma temen-temen kita yang udah terlanjur terjerumus dalam kenikmatan semu itu?????!!!!

  ratna wrote @

yup,
pikir2 dl deh sebelum melakukan seks pra nikah.
Jangan samakan dengan budaya barat. remaja disana mungkin memang sebagian besar melakukan seks bebas, namum mereka jg dibekali mental untuk menanggung resikonya, mereka lebih dewasa menyikapinya, dan memang disana kemandirian sudah diterapkan sejak dini.
Setiap anak bertanggung jawab atas dirinya sendiri bukan lg orang tua.
Klo disini serba tanggung, laki2 yg mungkin pernah melakukan seks pra nikah tetap aja klo mo py istri inginnya istri yg msh virgin. not fair kann..
Bagaimanapun seks pra nikah ini lebih merugikan kaum wanita.
Jadi lebih baik hasrat itu tunda dl sampai sah secara agama pasti akan lebih indah.

Buat yg udah terlanjur kecebur yah..grown up, life must go on dan niatkan untuk menjadi lebih baik.

salam,

  n’dya wrote @

yeee…masak siy mau nyerahin keperawaan ma co yang bukan suaminya??
ga banget deh..
pokoknya kita sebagai remaja cewek kudu ati-ati..

  m.enci wrote @

ya bagus itu kalo lu punya karakter kaya gitu…………
emang keperawanan lo jangan sampe lo serahin ke orang yang bukan suami mu………
karena itu yang sangat sangat di anggap spesial oleh suami mu……….
hehehehehehehehe………

  d’win wrote @

wong uenak kok dilarang….
yg penting aman dan bersih,
ok???

  dee wrote @

so, kawin muda dunx solusinya……
ya gkkkkk?///////

  EzaYayaN6 wrote @

Sek diluar nikah juga dilarang agama, dan kerugian dari perbuatan tersebut tidak saja kehilangan keperawanan, akan tetapi harga diri dan kehormatan kita di injak-injak. Dimata masyarakat kita hina.Sek bebas bukan budaya kita orang ketimuran, emang ini adalah dampak dari teknologi. Ya.. solusi terbaik adalah tanamkan akidah yang kuat bagi keluarga sedini mungkin.

  yuu_cHaN wrote @

kalo menurut gw sih kita tuh orang timur jangan sok ke barat2an(emo,free sex,dll)
untuk yg free sex sih
klo udah nyoba trus tek dung(hamil) gmn?? sama kya yg d bilangin Ratna diatas,,,
di barat tuh lebih mandiri,, malah waktu itu gw baca dimana gitu (dah lupa) ada ana 14 thn hamil bisa jadi single parent malah keliatannya banyak yg single parent
semua kembali ma diri qta sendiri
klo mo ngikutin budaya barat terserah tapi klo udah kejadian hamil tanggung sendiri ato tanggung bersama ma c cowo jgn sampe tu jabang bayi maen di gugurin aja,,,(skarang kyanya lgi trend aborsi y^^)

[...] 31, 2008 · Disimpan dalam seks Gw posting ini karena terinspirasi sama artikel Remaja dan Hubungan Seksual Pra Nikah. Hanya sedikit orang yang ngasih komen artikel itu, dan ternyata kesimpulan pertama gw dari komen [...]

  Rizki on benbego wrote @

waduh, klo gini caranya makin ancur deh. sayangnya berapa banyak cewek yg skarang masih perawan. mudah2an jatah buat gue nanti masih utuh tersegel.

  Robbie Alca wrote @

Waw..ini pertama kali saya membuka dan membaca aneka artikel di http://www.artikle.wordpress.com. sungguh artikel yg menarik yg mempunyai usaha untuk mendidik kaula muda yg terkesan amburadul zaman sekarang,Tapi gk semua loh,oo iya yg saya tanggapi disini adalah di bolehnya pacaran.memang sich ini masalah sudah kaderluarsa tapi asyik untuk di bahas.kalu seandainya pacaran yg terkontrol oleh ortu bisa menjadi prosses pendewasaan anak2 mereka,mengapa masih ada juga kaula muda yg masih hoby kumpul kebo tanpa di ketahui ortu mereka.kalu menurut saya sich..Stop pacaran dan sebagai ortu seharusnya mendidik anak2 mereka untuk lebih apresiatif terhadap Islamic essence dan Islamic ambience sehingga dengan memiliki pengetahuan keagamaan yg sudah mengakar di dasar jiwanya akan menjadikan anak tersebut takut kepada tuhan dan gk kan melakukan hal bodoh seperti kumpul kebo,di putusin ama pacar langsung bunuh diri,stress lah kalu gk dapat cow/cew.Seandainya saja anak muda zaman sekarng gk sibuk2 memikirkan lawan jenisnya tapi mereka memendam dalam hati dan menunggu waktu yg tepat untuk mengepresikan hasrat mereka.Maka kumpul kebo dsb akan akan hilang dan gk pernah di fikirkan oleh anak2 anak muda…That all

  VIVI wrote @

kALo bUAT aq JangAN samPE deCH!!!UdaH TERlalu BanyaK yAnG udAH jADi KOrban….aPA mau JAdi KOrban yang KesKian Kali…KiTA bukAN ANak kecil LaGI HarUS DIbeRITAHU setIaP saaT…InGAt jasa2 Ortu Dech!!!KasiAN merEka!!!

YaCh!!!BaCk to Ur seLF lah…

  subkioke wrote @

BUAH PACARAN & PERGAULAN BEBAS:

1. ABORSI DIMANA-MANA
2. LAKI-LAKI KHAWATIR CALON ISTRINYA NGGAK PERAWAN LAGI
3. BANYAK BAYI DI BUANG DI TEMPAT SAMPAH DAN TEMPAT IBADAH
4. MASYARAKAT RUSAK
5. PENYAKIT AIDS MERAJALELA
6. NEGARA RUSAK

YANG SALAH SIAPA?:

1. PRESIDEN & WAKIL PRESIDEN SELAKU AMIR DI NEGARA INDONESIA, TIDAK MENGATUR PERGAULAN REMAJA
2. DPR/MPR, TIDAK MENGESAHKAN UNDANG2 ANTI PORNOGRAFI
3. PARA MENTERI YANG IKUT KEBIJAKAN PRESIDEN
4. PARA PEJABAT DAERAH YANG MEMBIARKAN PERGAULAN BEBAS
5. ORANG TUA YANG TIDAK MENGAWASI ANAK2 NYA
6. INDIVIDU ITU SENDIRI

SIAPA YANG BERDOSA ?

SEMUA DI ATAS

SEGERA ISHTIGHFAR WAHAI PARA PELAKU MAKSIAT

==========
LEBIH ENAK KITA PACARAN DAN BERCINTA
KALO SUDAH NIKAH. PERCAYA DEH
LEBIH NIKMAT & LEBIH TENTERAM
TIDAK TAKUT KETANGKEP AMA SATPAM/POL PP/POLISI

2.

  subkioke wrote @

PACARAN NO, NIKAH YES

  vija wrote @

sex bebaz klw bisa jgn dech, drpd akhrnya kmu nyesel gmn? gmn klw kmu dh ngasie keperawananmu trenyata dia gak jd suami kmu , repot kan? gmn klw gada yg mw akn kita yg dh gak virgin? tp bwt yg dh terlanjur , aku sranin stop jgn diulangi lg n tobat trz jgan jdi beban asalkan kmu mw berubah bedoa !!!

  sekol wrote @

ada baiknya kalo yang punya pandangan bebas kayak gitu musti paham kalo semua perbuatan itu ada konsekuensi. pemuda boleh lah dikatakan punya spirit,kemauan, intelektual, tapi musti diingat pula kalo dia jg sudah waktunya bertanggungjawab atas smua perbuatannya sendiri. Salah pergaulan bisa smua menanggung akibatnya: ortu, keluarga, teman, gurunya dan tentunya dirinya–malu dan beban hidup. Sehingga pandangan kebebasan berekspresi (dari barat) harus dibuang jauh. Ok keep smile

  andy wrote @

pada intinya gini loh………..klo emang sama2 mau!!!!!! why not…….

  suci wrote @

knapa msti yang d salahkan cewk???? sebenarnya cewk tu korban laki-laki yang tidak bertanggung jawab!!!!! laki-laki bejat yang sok-sok mreka yang pling sempurna… padahal laki-laki adalah makhluk yang pling mnafik bgt…laki-laki pgen mnang ndiri pdhal bnyak laki-laki yang udah g perjaka lg,,,tp knapa mreka mncari cewk yang hrus perawan pdahal mreka udah g perjaka lg!!!!!!!!!!!

  takizawa wrote @

seks pra nikah…
jgn pernah coba2 tuk lakuinnya..
jgn pernah menyerahkan virginitas dg iming2 apapun,janji apapun… JANGAN!!!
lelaki hanya ingin kenikmatan, setelah mreka dpt apa yang mreka inginkan, jgn brharap mrka akn ingat dg jnji mrka.. atau menghargai perempuan itu….
wanita hanyalah makhluk lemah…
jika smua sdh trjadi, tak ada yg bisa sisesalkan…
wanita tdk bs mnuntut laki2 itu…
hanya satu…yg bs dilakukan… “Hidup tak hanya berhenti disini, berjuanglah… perbaiki hidup..tunjukkan klo wanita bknlah makhluk yg pantas utk diinjak-injak..”

  Lolon_Manson wrote @

mau laki perempuan sama aja.itu masalah ahlak/moral aja “lelaki perjaka akan dijodoin dgn wanita prawan” sebaliknya lelaki ga perjaka dijodoin ama cewe ga prawan”itu lah keadilan TUHAN.ini crita nyata temen gue yg ga perjaka waktu nikah di malam pertama dia tidak menikmati krena dulu pernah ML di kost-an…bayangkan betapa indahnya kita lakuin sex setelah nikah /resmi dimana saat itu kita bisa ngesex dgn pikiran tenang tampa takut dosa& ga takut digedor pintu kita lakuin ampe pagi tanpa takut di gep hansip DLL coba elo2 bayangin indah kan…sebelunya sori gue bukan orang yg sok suci gue juga pernah jadi pecandu narkoba,miras,..tapi gue skrg masih bisa jaga keperjakaan…klo ciuman pelukan dll sih udah tapi klo ML belum tuh takut dosa,sial,dll

  aurayuda wrote @

ya lumayan lah pi lo kita kepengen ml gimana??

  paizoo wrote @

ku yang menjadi korban, mendapatkan istri “ampas” diakalin (atau suka sama suka kali….) mantan cowoknya… sampai sekarang batinku yang gak bisa menerima (karena aku gak seperti itu), walau akal sehatku menerima, karena kasian dengan anak-anak ku…… pengalaman tak enak yang seumur hidup tak akan terlupakan……..

  Putri Ragil wrote @

Seks Pranikah mungkin menjadi bumerang bagi sebagian remaja putri, tapi sebagian lagi mungkin sudah menjadi hal biasa karena pengaruh berbagai media yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Bagi kaum remaja putri yang belum pernah melakukannya, lebih baik jangan pernah terfikir untuk merasakannya karena akibat dari perbuatan itu lebih mengkhawatirkan. Dan bagi para remaja yang udah terlanjur melakukan seks pranikah, sebaiknya perbuatan itu didasarkan atas tanggungjawab dari kedua belah pihak dan berfikir untuk kedepannya. Bagi kamu-kamu yang mempunyai pengalaman pahit tentang seks pranikah, pengalaman itu janganlah menjadi bumerang atau menjadi hal yang bisa mengurangi PeDe kamu. Sekarang udah banyak pusat pelayanan dan info bagi remaja,lebih baik kamu ikutan curhat ke mereka agar kehidupanmu selalu maju and ga` selalu nengok masa lalu.ok?. Bagi ortu, kesehatan reproduksi yang didalamnya ada pendidikan tentang seks sangat penting diberikan sejak dini serta sll memantau perkembangan anak2nya. Memantau bukan berarti serba melarangkan?

  Hamba ALLAH SWT wrote @

Ada yang bilang boleh2 aja asal aman pake pengaman. Tapi kalau aku bilang mending nggak usah aja, masalahnya apapun yang bakal terjadi kita nggak akan tau. so karna nyesel pasti di belakang jangan ampe ngerasain nyesel soalnya nggak enak banget menanggung penyesalan dalam hidup. so buat semua sodara ku sebangsa setanah air cukup untuk seks bebas. mulai perbaiki diri bagi yang terlanjur. nggak ada kata terlambat selama nyawa masi di raga…GBU

  nadiia wrote @

sebetulnya, biasanya ada terjadi pemaksaan hubungan seks pada pasangan muda yang berpacaran. nah, itu tuh yang mestinya ditekankan dilarang. banyak sekali yang rela melakukan hubungan seks demi cintanya pada pacarnya sendiri. selain paksaan, biasanya remaja laki laki akan diberikan ultimatum-ultimatum, seperti akan diputuskan hubungan pacarannya atau diberi ultimatum lain yang biasanya remaja perempuan takut terjadi. hal itulah yang menyebabkan angka seks pranikah meroket. jadi selain kolotnya anak remaja sekarang dengan ilmu seks dan bahayanya, kekerasan dalam pacaran juga harus distop!

  NAZIELA wrote @

Seks bebas,mending g usah coba2 dech… seks bebas tu dampaknya besar banget… iya klo oknum2 pelaku seks bebas itu pada bertanggung jawab,klo pada melarikan diri gmn?… Kacian Dech Lho???

Dalam Melakukan seks bebas,orang yang paling dirugikan tu adalah cewk.tau g knapa?
Karena harta yang pling berharga seorang cewk adalah KEPERAWANAN. So klo qm dah G perawan berarti qm dah g berharga dong?Kcian dong suami qm ntar… Masak suami tercinta d kasih BEKas.bekasnya orang yang g bertanggung jwb Lg.slain itu seks bebas dampaknya jg fatal…bs2 qm hamil,terkena PMS,g dhargai,G ad yng nikahi,,,

PoKoknya para cewk seluruh INDONESIA : JAGA KEVIRGINAN QM SEBELUM MENIKAH! ok!
JGN takut klo diancem ma cowk Qm.Klo msh pcaran aj mintanya dah macem2 palagi klo dah berumah tangga,jangan2 istrinya tetangga d srobot jg… yo tho/?
Cowk dDunia ni msh banyak kok?Mskipun perbandingannya,,,1 :4. He3x
tp g usah khawatir klo g dapat cowk,Tuhan bkalan kasih Qm tempat yang terindah kok…karena qm dah mencegah perbuatan zina.

Sekedar nambahin aj:Klo qm d rayu ma cowk qm dengan mngatakan :Cayang…qm g bkalan hamil?ntar sebelum keluar dah tak cbut kok… tu cm Busyeet Belaka. Emang dy trasa air maninya kluar.Orang mimpi basah aj g terasa. Bukane sok tew Lho,,,

*HIDUP KEVIRGINAN???,,,,….,,,*
KLO G PERCAYA TANGGUNG SENDIRI YACH…

  ginanjar a wrote @

makcih tas INFOnya
now aku jd tau bhwa seks dluar nkh sgt berbahaya

  duka wrote @

bner dech nyesel bgt nyerahin ke virginan sama orang yg g punya tanggung jawab…

tp bner kata ratna…
gw mesti grow up…

meski hancur,,,hidup mesti harus berjalan…

  lidya wrote @

oke buat yang suka free sex didoain aja cepat sembuh
n jangan ulangi lagi ya,,kasian buat bayi n keprawanan.

  Rens wrote @

seks pra nikah tu sebenarnya karna mau gaul aje, n ngikuti trend gmana kalo udah dengar teman2 uda pada ngeseks ya ngikut aje biar nga di bilangan katro, tapi sebenarnya yang salah pembinaan mental anak dari ortu, guru n rohaniwan n so pasti bawaan dari si anak sendiri, untuk ku perlu ada undang2 nya biar bangsa ini nga kebablasan.

  Paijo wrote @

“cinta sejati berada dalam keheningan jiwa, bukan diantara gemurung tubuh yang berisik”
free sex = dilarang.
Kalau free sex dibiarin nanti akan banyak:
anak gadis
menangis meringis-ringis
karena perawanya terkikis-habis
oleh buaya berjidat kelimis
dengan bualan rayuan manis.
Udah dulu gw nulis
krn gw dah kebelet pipis.

  neni wrote @

aDuh. . kLu haRus ML di LUaR niKah,,eNak tuCh hanYa s’saat aZha. . tyuZ ujunG2nYa juGa HIV atau penyakit ieyyank Laen. .
n aQuwh saRAnin jaNgan deCh aMpe seks beBAs booo. . .

  J-hahnd wrote @

hehe lha wong yow penak!!!
maw gmana lagi,

  tempat kos terkenal di purwokerto – kota banyumas wrote @

trims infonya bos.

  giyanto wrote @

waduuuuh uenaaak donk untk kaum laki2 yg senang freesex. Yg
kasihan anak gadis org tuch kalo di hamili di tinggal lari;;;;;

  giyanto wrote @

jadi perempuan yach hrs hati2 jangan sampai tergoda oleh rayuan gombal. dan jangan mudah percaya ma rayuan gombal

  Abdul Cholik wrote @

Sebagai tambahan pertimbangan saja. Bagi saya pacaran adalah salah satu pintu masuknya pembolehan free seks dengan berbagai macam bentuknya ke dalam benak muda mudi. maka dari itu, segala bentuk pergaulan yang bebas antar lawan jenis sepatutnya dibatasi. Tak mudah memang, tapi sesuatu yang sulit bukan berarti tidak bisa dilaksanakan. Hanya iktikad baik dari seluruh komponen masyarakat yang ingin menyelamatkan bangsa ini dari keboborokan moralyang bisa memperbaiki keadaan. That’s the theory. But we know theories will remain nothing without what so called practices.

  Abdul Cholik wrote @

Kurang adil jika kita hanya melimpahkan kesalahan pada salah satu pihak. Islam mengajarkan agar yang laki tidak jelalatan, dan yang perempuan memperhatikan busana. dan sebaliknya.

  zasa wrote @

free sex,
klu yang co berani tanggung jawab n keduanya dah tw resikonya…
i2 kan sdah jadi pilihan mereka …
so why not…

  Dionee wrote @

O.oow…Hubungan Sex Pranikah..??? 1.Logikanya klo memang sayang terhadap pasangan dan dan dirinya sendiri seharusnya dan selayaknya turut “Menjaga..dan Melidungi..” Toh bukan malah ” Merusak..” OK
2.Ada sebagian paradigma antara Pria dan Wanita untuk urusan Sex berbanding terbalik dan sifatnya lebih realistis..mengatakan bahwa “SEX” dan “CINTA” itu BETI alias Beda Tipis. Ada kecenderungan bahwa “PRIA MENCINTAI WANITA KARENA SEX”dan “WANITA MEMBERIKAN SEX KARENA CINTA”. Jelas hal ini sangat konyol…! Heheheee…

  Dionee wrote @

O.oow…Hubungan Sex Pranikah..??? 1.Logikanya klo memang sayang terhadap pasangan dan dirinya sendiri seharusnya dan selayaknya turut “Menjaga..dan Melidungi..” Toh bukan malah ” Merusak..” OK
2.Ada sebagian paradigma antara Pria dan Wanita untuk urusan Sex berbanding terbalik dan sifatnya lebih realistis..mengatakan bahwa “SEX” dan “CINTA” itu BETI alias Beda Tipis. Ada kecenderungan bahwa “PRIA MENCINTAI WANITA KARENA SEX”dan “WANITA MEMBERIKAN SEX KARENA CINTA”. Jelas hal ini sangat konyol…! Heheheee…

  achiel wrote @

tapi bagai mana kalau kita terbawa nafsu?
pada saat saya melakukan nya awal nya saya agak takut tapi pasangan saya yang mengajak saya untuk melakukan hubungan sex .
apakah berciuman sambil memainkan lindah akan menimbulkan penyakit


Komentar Anda

HTML-Tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>